Keluhan warga kembali menggema dari Kecamatan Lamasi dan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu. Sudah lebih dari lima tahun, akses jalan poros penghubung dua kecamatan itu mengalami kerusakan parah tanpa ada kepastian perbaikan dari pemerintah daerah. Kondisi inilah yang membuat warga mulai mempertanyakan komitmen Pemda Luwu dalam menangani infrastruktur dasar yang selama ini menjadi kebutuhan vital masyarakat.
Keluhan tersebut disampaikan oleh Matius, warga Desa Padang Kalua, yang menegaskan bahwa kerusakan terparah berada di wilayah Padang Kalua hingga Desa Wiwitan. Dua desa itu kini menjadi titik paling memprihatinkan karena jalan berlubang sudah merata kurang lebih lima kilometer.
Menurutnya, setiap musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur sehingga kendaraan sering terjebak dan warga harus berhati-hati saat melintas. Sementara pada musim kemarau, situasi berubah menjadi lautan debu yang menutupi pemukiman dan mengganggu aktivitas warga.
“Sudah lima tahun lebih kami menunggu sentuhan pemerintah, tapi tidak ada perubahan. Jalan ini seperti dibiarkan rusak begitu saja,” ungkap Matius dengan nada kecewa kepada media ini, Selasa (25/11/2025).
Kekecewaan warga kemudian diwujudkan dalam aksi gotong royong, di mana mereka secara swadaya menambal jalan menggunakan semen. Namun upaya itu tidak bertahan lama. Kerusakan justru semakin melebar karena kondisi tanah dasar jalan tidak stabil dan sering tergenang air.
Dengan situasi yang makin memburuk, warga berharap Pemkab Luwu tidak tutup mata dan segera turun melakukan survei lapangan serta mengalokasikan anggaran perbaikan jalan. Menurut warga, jalan rusak bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi membahayakan nyawa pengguna jalan, terutama pada malam hari ketika kondisi jalan sulit terlihat.
Harapan mereka sederhana, jalan yang layak, aman, dan bisa digunakan sebagai akses utama tanpa rasa waswas. Warga Lamasi kini menunggu langkah nyata, bukan lagi janji yang menumpuk tanpa realisasi.

Tinggalkan Balasan